Wednesday, May 08, 2013

Innalillahi wainnaa ilaihi raji'uun

.
Innalillahi wainnaa ilaihi raji'uun. Kalimat yang sering kita dengar bahkan sering kita ucapkan tetapi berapa banyak yang mengerti maksudnya?

Innalillahi wainnaa ilaihi raji'uun adalah potongan ayat Al-Quran, Surah Al-Baqarah, ayat 155-156:
155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun [Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya-lah kami kembali]"

Bacaan tersebut dikenal dengan sebutan bacaan tarji' yang merupakan frase umat Islam apabila tertimpa musibah. Biasanya diucapkan apabila menerima kabar duka cita.

Umat Islam mempercayai bahwa Allah yang memberi dan Allah jugalah yang mengambil, Dia menguji umat manusia. Oleh karena itu umat Islam menyerahkan diri kepada Allah dan bersyukur kepada Allah atas segala yang mereka terima. Pada masa yang sama, mereka bersabar dan menyebut ungkapan ini saat menerima cobaan atau musibah.

Innalillahi wainnaa ilaihi raji’uun... Semua milik Allah SWT dan akan kembali padaNya…. Mudah mengatakannya, terutama saat kita tertimpa musibah. Dan mestinya tidak hanya kematian tetapi musibah sekecil apapun, meskipun hanya terkena duri atau tersandung batu dijalan. Namun demikian, ucapan itu mungkin hanya sebatas ucapan dilisan saja, tetapi mungkin sulit bagi kita untuk memahami maknanya apalagi menjalan- kannya.

Bagaimana perwujudan sikap kita yang menunjukkan bahwa kita telah mengaplikasikan ayat ini …?

Konon bila ada sahabat kita yang menginginkan sesuatu barang yang kita miliki maka sebaiknya kita berikan kepadanya. Bila kita ingin memberi sarung atau baju kepada sesama kita, tentu kita pilih yang paling bagus atau baru bukan yang bekas kita pakai walaupun masih kelihatan bagus. Selain itu, banyak pesan dari para ulama bahwa dalam rezeki yang kita dapatkan, ada kewajiban pada sebagian rezeki itu untuk kita bagikan kepada orang lain yang berhak.

Namun apa yang biasanya terjadi? Kita sangat susah untuk berderma dan bersedekah. Kita merasa apa yang diraih itu adalah berkat usaha diri sendiri, berkat kehebatan kita sendiri. Jadi kita “berhak sombong” dan berhak memakainya untuk apa saja, untuk kepentingan diri sendiri.

Ada temanku yang sangat ringan meminjamkan barang pribadi kepada teman-temannya, tanpa pandang bulu siapa teman yang meminjam itu. Bahkan jika diledek si peminjam, “Benar nih boleh aku pinjam…? Ntar kalau hilang atau rusak gimana…?” Dia biasanya hanya menimpali, “Aku percaya kamu kok… Kalaupun hilang itu berarti Allah tidak memberi kepercayaan padaku untuk memilikinya…”

Terhadap teman yang seperti ini, saya dan teman-teman lain malah jadi sungkan. Malah jadi lebih menghargai dan berhati-hati (memegang teguh kepercayaan yang diberikan olehnya). Kita begitu karena kita yakin bahwa dia adalah salah satu insan yang disayang oleh Tuhan, karena telah meneladani sifat pengasih dan peyayang-Nya (Ar Rahman dan Ar Rahim).

Namun terkadang kita menjadi sangat sulit untuk berbagi. Tetangga yang mau pinjam kendaraan barang sekali saja sangat berat memenuhinya, bahkan sekalipun ketika untuk keperluan mengantar berobat istrinya. Apa lagi berbagi dalam hal rezeki. Misalnya membantu “memberi makan” tetangga yang susah makan saja tak sudi, padahal kita tahu tetangga kita itu sangat kesulitan walaupun itu hanya untuk makan sehari-hari. Dilain pihak, dirumah kita malah justru bergelimangan makanan, lauk pauk tersaji beraneka ragam, begitupun buah-buahan dan itupun banyak sisa-sisa makanan dipiring yang tidak habis termakan dan akhirnya terbuang ditempat sampah.

Saat kita kehilangan jabatan, saat kita disakiti atau difitnah orang. Bahkan bila anak atau pasangan hidup kita harus mendahului kita menghadap Sang Ilahi, itu berarti Allah mengambil kembali apa yang diamanatkan kepada kita. Rasulullah melarang kita untuk menangisi orang yang telah meninggal dengan meraung-raung, sedih berkepanjangan atau malah menyalahkan pihak lain (bahkan Tuhan) atas kematian orang itu.

Semua itu tidak akan terjadi bila kita merasa bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Tuhan, semua kejadian adalah atas izin Allah, semua kehendak Allah, dan niat kita untuk berbagi dengan sesama adalah dalam rangka untuk mencari ridha Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Mungkin itulah sekelumit makna ucapan Innalillahi wainnaa ilaihi raji’uun...

Berikut ini ayat-ayat Al-Quran tentang larangan untuk bersifat sombong, kikir dan perintah melakukan hal-hal yang baik kepada sesama kita.
Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguh nya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikanNya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan" (QS 4: 36-37)

"Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)" (QS 9 : 76)

"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah (Ansar) dan telah beriman sebelum kedatangan orang-orang Muhajirin, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada orang- orang Muhajirin; dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin, atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS 59:9)

Sumber: Kompasiana 24 Maret 2011
Belajar Trading Forex Gratis!  
.