Friday, May 25, 2018

4 Wanita Terbaik

.
Rasulullah saw bersabda, "Cukuplah wanita-wanita ini sebagai panutan kalian. Yaitu Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiyah binti Muzahim, isteri Firaun" (HR.Tirmidzi).

Kehebatan mereka berempat di akhirat ditunjukkan oleh sabda Rasulullah yang berbunyi, "Sebaik-baik wanita penduduk Surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir'aun." (HR.Ahmad) 



Asiyah Binti Muzahim
Sebuah kepastian bagi mereka yang dimuliakan Allah didunia dan akhirat untuk mengalami ujian yang berat untuk menentukan kualitas mereka. Tentu kita sudah familiar akan siksaan dahsyat yang dialami oleh Asiyah binti Muzahim, dia harus meregang nyawa dibawah salib dan teriknya panas matahari, setelah sebelumnya disiksa dengan siksaan yang amat berat. Sehingga Allah membocorkan sedikit rahasia-Nya dgn menampakkan istana surga kepada Asiyah. Benar-benar sebuah pembelajaran iman bagi kita. Inilah konsekuensi terberat dari makna keimanan.

“Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika dia berkata: “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah disisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim” (QS.66:11)

Dari Asiyah kita belajar akan fitrah indah dari seorang wanita, ketika Allah anugerahkan kasih sayang kepadanya disaat Musa kecil dihanyutkan disungai Nil. Refleks saja baginya untuk meminta kepada Firaun untuk mengasuh Musa kecil. Dan Fir’aun, seperti laki-laki lainnya, tidak kuasa jika berhadapan dengan keinginan wanita. Fitrah yang sering kita lihat dari ibu kita, saudara perempuan serta kaum wanita lainnya, mudah sekali bagi mereka untuk menampakkan kasih sayangnya pada anak kecil.

Dan berkatalah istri Fir’aun: “(dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyadari. (QS.28:9)

Dari Asiyah kita belajar tentang arti kesabaran. Bisa dibayangkan jika mempunyai pasangan seperti Fir’aun dengan sifatnya yang congkak, bahkan mengaku sebagai Tuhan. Dia harus luar biasa sabar menghadapi orang seperti ini. “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang dimuka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dgn menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS.28:4)

Asiyah mencontohkan dengan jelas, jika keimanan sudah terpatri kuat dalam hati, lingkungan yg luar biasa penuh dengan kemusyrikan dan kekufuran tidak menggoyahkan keimanan sedikitpun. Mereka yang mendapati dalam hidupnya lingkungan penuh dengan keimanan, harus benar-benar bersyukur.

Dan Asiyah lebih memilih kematian daripada menggadaikan keimanannya. Bayangkan, pengorbanan yang telah ia lakukan, semua fasilitas terbaik sebagai seorang permaisuri, semua materi yang ada dan semua kenikmatan dunia terbaik yang telah menyatu dalam kehidupannya. Semuanya dia korbankan. Kita banyak mendapatkan hikmah dan pelajaran dari kehidupan permaisuri Mesir yang dirahmati Allah.

Maryam Binti Imran
Seorang wanita yang namanya paling masyhur didunia dan akhirat. Lebih dari 60% penduduk dunia saat ini, umat Islam dan nasrani tahu namanya. Namanya begitu harum, sampai-sampai menjadi nama seorang wanita yang paling banyak disebut dalam AlQur’an, bersanding dengan nama ayahnya yang mulia pula. Dialah Maryam binti Imran, namanya terabadikan dalam AlQur’an surat ke-19, sedangkan nama ayahnya pada surat ke-3. Sebuah penghargaan yang luar biasa yang Allah berikan.

“Dan ketika Malaikat Jibril berkata: “Hai Maryam sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita didunia (yang semasa dengan kamu)” (QS.3:42)

Hikmah pertama yang bisa kita ambil adalah bagaimana gen orang tua berpengaruh langsung kepada anaknya. Imran dan Hanna sebagai orang tua dari Maryam adalah orang yang terkenal kesalehan dan kebaikannya. Wajar jika Maryam menjadi sosok yang banyak diinginkan oleh kaumnya ketika dia lahir. Bukankah hak pertama seorang anak adalah dilahirkan dari seorang wanita yang shalih?

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali- kali bukanlah seorang pezina” (QS.19:28)

Hikmah Kedua, lingkungan tumbuh kembang seorang Maryam kecil sangat kondusif. Kita semua tahu, Maryam akhirnya diasuh oleh nabi Zakariya setelah masyarakat luas berlomba untuk mengasuhnya. Maryam ditempatkan khusus di mihrab Baitul Maqdis. Sebuah lingkungan yang bagus dan istimewa untuk menjadikannya seorang wanita yang super shalihah dan super dekat dengan Allah. Disebutkan bahwa Maryam adalah sosok wanita yang tidak pernah meninggalkan qiyamulail dan memiliki waktu puasa yang khusus, yaitu 2 hari berpuasa dan 1 hari berbuka.

“Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS.3:43)

Dalam buku 4 wanita terbaik dunia dan akhirat karya Ali Awudh Uwaidhoh disebutkan bahwa Maryam mengandung Nabi Isa as pada usia 13 tahun. Ini menandakan kedewasaan yang terbentuk pada jiwa dan diri Maryam, Allah mengujinya dengan kehamilan tanpa ayah dan menjadikannya seorang ibu bagi nabi yang mulia.

“Dan Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan kedalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS.66:12)

Tibalah saatnya bagi Maryam dan anaknya untuk hijrah kenegeri Mesir karena keamanan yang buruk dinegeri para nabi, 12 tahun lamanya dia menetap di Mesir, perjuangan membesarkan nabi Isa as dilakukannya dengan penuh kesabaran, jangan dikira bahwa Maryam hanya santai-santai saja disana. Perjuangannya untuk memberi makan anaknya dilakukan sendiri dengan menjadi buruh tani gandum, sekali lagi semua ini dilakukan oleh seorang Maryam, wanita terbaik dunia akhirat. Coba bayangkan perjuangannya, perjalanan jauh dari Palestina ke Mesir, panas terik diladang sambil membesarkan nabi Isa as. Dan kita tahu hasil didikkan Maryam, seorang nabi yang terkenal karena kesantunan dan kasih sayangnya. Sampai akhir hayatnya, Maryam selalu mendampingi putranya dalam menyebarkan agama tauhid di masyarakat. Benar-benar menjadi teladan sejati wanita seantero dunia.

Khadijah Binti Khuwailid
Beliau merupakan istri Al amin, Muhammad. Butuh keberanian yang tinggi untuk nembak duluan bagi seorang wanita, Khadijah yang melihat keistimewaan dan budi pekerti yang luhur dari Muhammad, tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bersanding dengan sosok seperti Muhammad. Dan apa yang dilakukannya membutuhkan mental baja, apalagi sebagai seorang janda. Tapi apakah perbuatannya itu membuat dirinya menjadi hina? Tidak sama sekali.

Khadijah adalah teladan sejati para istri dalam ketaatannya pada suami. Khadijah, wanita pertama yang mengakui kenabian suaminya, karena dia yang paling paham karakter dan sifat suaminya.

“Demi Allah, sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah sungguh engkau telah menyambung tali silaturahim, jujur dalam berbicara, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan tamu dan menolong orang-orang yang terkena musibah” (HR.Bukhari dan Muslim)

Dan kita semua tahu bagaimana support terbaik diberikan oleh Khadijah kepada Rasulullah, dengan konsekuensi yang tidak murah dan tidak mudah. Hampir semua harta yang dia dan Rasulullah miliki, digunakan untuk pergerakan dakwah Islam. Dan dia rela bersama Rasulullah selama 3 tahun dalam embargo ekonomi dan sosial yang dilakukan kaum kafir Quraisy, coba bayangkan kondisi embargo yang membuat Bani Hasyim harus makan rumput kasar padang pasir. Dan Ia tetap setia.

“Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkari. Ia membenarkanku disaat orang mendustakan. Dan ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau”. (HR.Ahmad)

Wajar jika Rasulullah sendiri tidak bisa menduakan Khadijah selama dia hidup, padahal Rasulullah mampu melakukan itu. Bahkan setelah Khadijah wafat pun butuh waktu lebih dari satu tahun bagi Rasulullah untuk menikah lagi. Memang ada seorang laki-laki yang mampu menyakiti hati dan melupakan sosok seperti Khadijah?

Aisyah ra berkata: “Belum pernah aku cemburu kepada istri-istri Rasulullah lainnya kecuali kepada Khadijah, padahal aku belum pernah bertemu dengannya.” Ia melanjutkan, setiap kali Rasulullah menyembelih seekor kambing beliau berkata ”Kirimlah daging ini kepada teman-teman Khadijah!” Pada suatu hari aku membuat beliau marah. Aku berkata: ”Khadijah?” Rasulullah saw berkata: ”Sesungguhnya aku telah dianugerahi rasa cinta kepadanya.” (HR.Muslim)

Dia salah satu saudagar Mekah yang sukses, sebuah pelajaran penting bagi kaum hawa utk menjadi pribadi yang mandiri dan profesional. Rumah tangga yang dibangun bersama Rasulullah pun termasuk rumah tangga yang santun dan dewasa karena tak pernah sekalipun mereka beradu kata-kata kasar, apalagi hujatan. Bahkan Khadijah tidak pernah manyun dihadapan Rasulullah. Khadijah benar-benar menjadi teladan sejati para istri.

Dan setiap yang dilakukannya mendapatkan balasan terbaik dari Tuhannya. Sabda Rasulullah saw: “Wahai Khadijah, ini malaikat Jibril telah datang dan menyuruhku untuk menyampaikan salam dari Allah kepadamu dan memberikan kabar gembira kepadamu dengan rumah yang terbuat dari kayu, tidak ada keributan dan rasa capai didalamnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Fatimah Binti Muhammad
Ia putri Rasulullah. “Saya tidak melihat seorangpun yang cara berjalan, tingkah laku, pembicaraan dan saat berdiri juga duduknya yang sangat mirip dengan Rasulullah selain Fatimah.” (HR.Tirmidzi)

Fatimah kecil adalah saksi penolakan kafir Quraisy terhadap apa yang dibawa oleh ayahnya. Ia yang membersihkan pakaian Rasulullah, saat kotoran ditimpakan padanya. Ia pula yang dengan lantang berorasi didepan kaum kafir yang menyakiti Rasulullah. Sungguh wanita yang sangat pemberani. Setidaknya ‘kecerewetan’ seorang wanita ditempatkan proporsional olehnya.

Fatimah mendapatkan tempaan yang dahsyat. Dari kecil, dia bersama orang tuanya dalam embargo, membuatnya kehilangan masa kecil yang seharusnya nyaman dan mengasyikkan. Saat usia belasan, ia harus rela untuk ditinggalkan sang ibu dan saudari2nya yang lain satu persatu. Bayangkan betapa beratnya ditinggal ibu dan saudari2 tercinta dalam kurun waktu yang tidak telalu lama. Namun, bukan Fatimah namanya jika tidak tegar menghadapi ujian. Bahkan ia yang mengurusi setiap kebutuhan dari ayahnya. Contoh bakti yang luar biasa, itulah sebabnya ia terkenal dengan sebutan Ummu Abiha (anak yang menjadi seperti ibu bagi ayahnya).

Tidak lengkap jika membicarakan Fatimah, namun tidak membicarakan kisahnya bersama suaminya, Ali bin abi Thalib. Kisah cinta mereka berdua memang harus menjadi teladan bagi muda-mudi dalam mengontrol setiap apa yang berkecamuk dalam hatinya. Rasa yang ada dihati Fatimah, tersimpan sangat rapi. Kata cinta terucapkan hanya ketika orang yang telah mengusik hatinya, Ali bin Abi Thalib, telah menjadi penyempurna separuh agamanya. Hal yang sangat langka untuk kurun waktu sekarang.

Dari kehidupan Fatimah, kita juga seharusnya banyak belajar tentang makna kesederhanaan dan penerimaan. Kita tentu paham dengan kehidupan keluarganya yang pas-pasan, menuntutnya untuk lebih banyak berkorban dan bekerja dengan tangannya sendiri. Kehidupan awal-awal rumah tangga untuk pasangan muda. Padahal dia adalah putri kesayangan Rasulullah, manusia termulia.

Nasehat Rasulullah saw pada Putrinya:
“Kalau Allah menghendaki wahai Fatimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan2 serta hendak mengangkat derajatmu. Wahai Fatimah, barangsiapa perempuan yang menumbukkan gandum untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya setiap satu biji satu keburukan. Dan Allah akan mengangkat derajatnya. Wahai Fatimah, perempuan yang berkeringat ketika menumbuk gandum untuk suaminya. Tentu Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tujuh khonadiq (lubang yang panjang).

Wahai Fatimah, manakala seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan menuliskan pahala untuknya dari memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang. Wahai Fatimah, apabila seorang perempuan menghalangi (tidak mau membantu) hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum dari telaga “Kautsar” kelak dihari Kiamat.

Wahai Fatimah, lebih utama dari itu adalah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau suamimu tidak rela terhadap engkau maka aku tidak mau berdoa untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai Fatimah bahwa sesungguhnya kerelaan suami adalah pertanda kerelaan Allah sedangkan kemarahan suami pertanda kemurkaan-Nya.

Wahai Fatimah, ketika seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan ampun untuknya dan Allah menuliskan untuknya setiap hari seribu kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan. Apabila dia menyambutnya dengan senyum maka Allah akan menuliskan untuknya pahala para pejuang. Dan ketika dia telah melahirkan kandungannya maka berarti dia keluar dari dosanya bagaikan dihari dia lahir dari perut ibunya.

Wahai Fatimah, ketika seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat yang tulus murni maka dia telah keluar dari dosa-dosanya bagaikan dihari ketika dia lahir dari perut ibunya, tidak akan keluar dari dunia dengan membawa dosa, serta dia akan mendapati kuburnya sebagai taman diantara taman-taman surga. Bahkan dia hendak diberi pahala seribu orang haji dan seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa orang perempuan berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati lega dan penuh ikhlas serta niat lurus, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya pakaian hijau dari surga kelak dihari Kiamat, serta menuliskan untuknya setiap sehelai rambut pada badannya seribu kebaikan dan Allah akan memberinya pahala seratus haji dan umrah.

Wahai Fatimah, manakala seorang perempuan bermuka manis didepan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan Rahmat. Wahai Fatimah, bila seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati yang lega maka ada Pemanggil dari langit memanggilnya: “memohonlah agar diterima amalmu, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang belum lewat”.

Wahai Fatimah, setiap perempuan yang mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya, dan mencukur kumis dan memotongi kukunya maka Allah akan meminuminya dari ‘rahiqil makhtum dan sungai surga, memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, juga dia akan mendapati kuburnya bagaikan taman dari pertamanan surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat”

Kita bisa lihat, hasil dari apa yang ia lakukan, dari setiap ujian dan dari setiap pengorbanan yang dilakukannya. Allah mengangkat derajatnya dunia akhirat dan melahirkan dari rahim nya anak-anak yang menjadi penerus keturunan Rasulullah. Walaupun hidupnya tidak lebih dari 30 tahun, namun inspirasi yang diberikan Fatimah sewajarnya terus hidup bagi wanita-wanita mukmin setelahnya. Termasuk generasi kita sekarang.

Dari kisah diatas, kita bisa mengambil banyak sekali persamaan yang ada pada mereka. Ujian yang mereka dapat tentu saja bukanlah ujian yang remeh temeh, tetapi sebanding dengan julukan yang kemudian diberikan kepada mereka, wanita terbaik dunia dan akhirat. Jadi, janganlah khawatir bagi yang mendapatkan ujian yang berat, barangkali Allah tengah mengupgrade diri kita, sehingga menjadi pribadi yang lebih berharga disisi-Nya.

Mereka juga terkenal dengan wanita mutakamil atau wanita yang sempurna. Baik dari sisi lahiriah maupun ruhiyah. Mereka terkenal dengan sebutan jamilatul jamil (cantik dari yang tercantik), itu dari sisi lahir sedangkan dari sisi ruhiyah, mereka terkenal dengan sebutan albatul atau atthohiroh yang berarti suci.

Dari keempat nama tersebut, kita juga bisa melihat karakter atau sifat luar biasa yang seharusnya melekat pada seorang ibu. Asiyah dengan Musa, walau ia hanya anak angkatnya. Maryam dengan Isa. Khadijah dengan anak-anaknya yang cukup banyak, serta Fatimah dengan para pemuda penghulu surganya. Kasih sayang mereka, didikan dan teladan mereka pada anak-anaknya, itulah kunci keberhasilan pengasuhan mereka. Ibu memang sosok luar biasa, kita pasti sepakat dengan kalimat ini.

Dari kisah mereka, kaum wanita seharusnya bisa mengambil pelajaran bahwa Islam tidak membatasi potensi kebaikan dan manfaat yang mungkin dilakukan oleh seorang wanita profesional. Namun tentu saja, tidak boleh melupakan potensi kebaikan dan manfaat terbesar yang Allah berikan kepada kaum wanita, yaitu menjadi istri dan menjadi ibu. Istri yang taat kepada suaminya dan Ibu yang mengandung, melahirkan dan mendidik anaknya dengan didikan rabbani. Suatu hal yang seharusnya diingat oleh mereka yang ramai meneriakkan kesetaraan gender yang ternyata jauh dari nilai-nilai Islam.

Cara Mengatasi Stres
Keampuhan Shalawat 

Hasilkan Jutaan Rupiah dari rumah! 
.